Minggu, 10 Juni 2012

Petir : Rahmat Atau Laknat?

"Atau seperti hujan lebat dari langit. Di dalamnya kegelapan dan guruh dan kilat. Mereka menyumbat telinganya dengan jarinya dari petir karena takut mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah 2 : 19)
Manusia selalu merasa ngeri ketika mendengar kilat sambung-menyambung dan guntur menggelegar. Sampai-sampai ada ungkapan sumpah, ”Berani disamber geledek kalau gue bohong.” Orang yunani menganggap petir dikuasai oleh dewa perang Mars. Orang kejawen percaya bahwa petir di pegang oleh Ki Ageng Selo, sehingga kalau terdengar kilat, mulut mereka komat-kamit berkata,”Slamet-slamet embah, putune wonten ngandap mriki.


Menurut kepercayaan primitif, petir diartikan dewa langit sedang murka.
Memang ada hadist Tirmidzi dalam mustadrak dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah SAW bila mendengar petir berdoa, Allaahumma la taqtulna bighadaabika, walaa tahlikna bi’adzaabika, wa’afina qabla dzaalika ” Ya Allah, jangan engkau bunuh kami karena murka-Mu, dan jangan Engkau musnahkan kami dengan adzab-Mu, dan ampuni kami sebelum itu terjadi.”
Al Quran mengajarkan lebih mendalam lagi. Bukan hanya rasa takut, tetapi ada secercah harapan dalam petir. Kalau hanya ketakuatan itu perilaku orang kafir. Hanya orang kafir yang menutup kupingnya karena takut mati mendengar suara petir. Sebaliknya, orang beriman mestinya menganggap petir sebagai ayat-ayat, tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus disingkapkan rahasianya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rum 30 :24, ” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ditampakkannya kepadamu petir yang menakutkan dan menimbulkan harapan.
Petir adalah ayat Allah, dia haruslah diposisikan sebagai hal penting yang harus ditafakuri seluk-beluknya. Ahli tafsir hanya menyebutkan bahwa yang dimaksud harapan adalah harapan akan turunnya hujan. Rasanya terlalu sederhana. Segala hal yang disebutkan Allah dalam Al Quran pastilah mengandung isyarat untuk sesuatu yang lebih dalam.


Baru di tahun 1750-an, seorang ilmuwan Amerika bernama Benyamin Franklin menyebutkan bahwa petir adalah sebentuk peristiwa listrik. Petir merupakan lompatan listrik bertegangan tinggi yang terjadi di atmosfer. Arus listrik yang terjadi yang terjadi dalam sekali sambaran petir adalah 10 coulomb pada perbedaan tegangan potensial sebesar 100 juta volt. Energi yang ditimbulkan sebesar 1 miliar joules atau 280 kwh, cukup untuk menghidupkan AC kamar selama 2 minggu. Padahal, setiap detik terjadi 100 lompatan petir di muka bumi. Sebanyak 90% berlangsung di awan, tidak tampak oleh mata. Sisanya terjadi lompatan antara awan dan bumi dengan kecepatan 100 ribu kilometer per detik. Bagaimanapun, setiap hari sebetulnya tersedia 100 x 24 x 60 x 60 x 280 kwh = 22,4 miliar kwh listrik gratis. Namun yang diperoleh manusia sekarang dari petir masih berbentuk musibah kebakaran, nyawa melayang dan kerusakan alat-alat elektronik. Fabiayya ala’i rabbikuma tukadziban ” Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”
Dr. Ir. H. Chunaeni Latief M. Eng. Sc., pimpinan laboratorium energi Unisba mengatakan bahwa seluruh listrik yang kita nikmati sekarang bukan energi listrik murni. Sebagian besar berasal dari energi air (PLTA), energi uap (PLTU), energi gas bumi (PLTG), energi nuklir (PLTN), dan lain-lain. Sedangkan yang dinamakan energi listrik yang benar-benar murni adalah dari petir. Ini belum dimanfaatkan sama sekali. PLTP, Pembangkit Listrik Tenaga Petir baru dalam taraf eksperimen skala kecil-kecilan di Jepang.
Para ahli meteorologi menghitung bahwa suhu di batang petir bisa mencapai 25.000oC, dan tekanan udara mencapai 10 atm dalam sepersekian detik. Inipun sumber energi potensial lagi yang bisa dikonversi untuk keperluan manusia. Al Quran telah mengisyaratkan adanya ketakutan dan harapan akibat petir. Ketakutan telah mengembangkan teknologi alat penangkal petir. Sedangkan harapan yang timbul dari petir masih terbuka lebar bagi ilmuwan Muslim untuk digali.

Selain menghasilkan energi listrik, petir masih mempunyai peranan besar lain di bumi. Petir mempercepat terjadinya hujan dan pembentukan salju. Petir juga melestarikan nitrogen di atmosfer bumi. Nitrogen adalah unsur utama yang dibutuhkan makhluk hidup. Diperkirakan jutaan tahun silam, di awal usianya, petirlah yang telah berjasa atas sintesa terbentuknya zat-zat kimia organik yang akhirnya berlanjut pada berkembangnya kehidupan di muka bumi.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar